Selasa, 25 Maret 2014

MEASUREMENT PERSPECTIVE APLICATION
By :
Tanzila Azizatur Rahmah
S. 1115.158
Overview
Bab ini merupakan kelanjutan dari bab-bab sebelumnya. Namun, pada bab ini focus terhadap pokok pembahasan yang berkenaan dengan peran perspektif pengukuran untuk meningkatkan decision usefulness atau bisa disebut dengan kebermanfaatan dalam pengambilan sebuah keputusan yang bertentangan dengan perspektif informasi.
Dalam sebuah buku, perspektif pengukuran pelaporan keuangan itu didefinisikan sebagai  suatu pendekatan di mana akuntan melakukan tanggung jawab untuk memasukkan nilai wajar dalam laporan keuangan yang tepat , menyediakan bahwa hal ini dapat dilakukan dengan keandalan yang wajar , dengan demikian mengakui kewajiban meningkat untuk membantu investor untuk memprediksi kinerja perusahaan di masa depan .
Di masa lalu, telah ada sejumlah besar laporan keuangan berdasarkan pengukuran biaya historis tapi tren sekarang adalah untuk melaporkan kinerja keuangan berdasarkan nilai wajar sehingga memungkinkan investor untuk menilai alternatif investasi .
Alasan Meningkatkan Perhatian Terhadap Pengukuran
            Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekali keraguan besar mengenai relevansi akuntansi berbasis historis value. Misalnya, net income menjelaskan sebagian kecil dari variasi harga keamanan. Maka, ada kebutuhan untuk perspektif yang membantu investor menilai probabilitas laba masa depan dan kembali lebih efektif dibandingankan akuntansi biaya historis. Dan juga adanya peningkatan tekanan dalam mendukung perspejtif pengukuran dari lembaga keuangan yang telah terlibat dalam tuntutan hukum karena konflik atas valuasi.
Penjelasan Kekuatan Laba Bersih
Seperti apa yang telah kita bahas pada chapter sebelumnya, sebagian besar kembalinya keamanan variabilitas, salah satunya dikarenakan oleh faktor lain selain perubahan laba. Ini sangat unrealistic, bagaimanapun untuk mengekspetasikan net income untuk memaparkan seluruh abnormal return sekuritas. Meskipun perpektif informasi mengakui bahwa ada banyak sumber informasi lain dari para competitor diluar sana dan informasi akuntansi tidak dapat menjelaskansemua seluruh abnormal return valiability. Dan telah didiskusikan bahwa kurangnya ketepatan waktu pada pendapatan yang berbasis historical cost adalah suatu alasan untuk kualitas yang rendah pada laba tersebut. Kualitas tersebut dapat ditingkatkan dengan incorporating the measurement perspective ke dalam laporan keuangan. maka dari itu, laporan keuangan yang berbasis historical cost jika terlambnat mengakui laba, maka laporan keuangan berbasis HC juga tidak mampu mengantisipasi kebangkrutan atas suatu perusahaan. Inilah salah satu sebab musababnya adanya tuntutan hukum masyarakat terhadap akuntan meningkat. Dan FSAB itu sendiri telah melakukan banyak usaha yang berorientasi perspektif pengukuran dengan nilai wajar.
Sumber utama dalam mendukung perspektif pengukuran berasal dari lembaga keuangan. Auditor menghadapi peningkatan tanggung jawab hukum dan mengalami kesulitan membela diri dari tuntutan hukum sehubungan dengan kegagalan bisnis. Misalnya, jika rekaman nilai aktiva berlebihan ini dapat mengakibatkan litigasi terhadap akuntan karena informasi akuntansi adalah menyesatkan kepada investor, sehingga dapat mengakibatkan tuntutan hukum masyarakat terhadap akuntan meningkat.

Ohloson Clean Theory Surplus
The Ohlson Surplus Clean Teori ( berdasarkan versi F & O ) menunjukkan bagaimana nilai pasar perusahaan dapat dinyatakan dalam hal neraca dan komponen sheet pendapatan . Nilai pasar dari suatu perusahaan dapat dinyatakan dengan rumus :
Pat = BVT + gt
Dimana “BVT” adalah nilai buku bersih aset perusahaan per-neraca dan “gt” adalah nilai sekarang yang diharapkan dari pendapatan normal di masa depan, juga dapat disebut goodwill (perbedaan antara laba aktual dan diharapkan). Kami membutuhkan keduanya dari angka-angka ini untuk memperkirakan nilai saham.
Clean Theory Surplus, mengarah ke perspektif pengukuran karena nilai-nilai yang lebih adil akuntan menggabungkan ke dalam BVT kurang kebutuhan untuk memprediksi laba abnormal. Ketika goodwill perusahaan sama dengan nol, ini berarti bahwa laba abnormal tidak bertahan dan bahwa semua nilai perusahaan muncul pada neraca. The F & O model juga memperkenalkan konsep persistensi laba. Hal ini berkaitan dengan masih adanya realisasi negara di luar tahun berjalan. Misalnya, jika realisasi keadaan buruk terjadi pada tahun tertentu efek ekonomi yang cenderung bertahan ke masa depan. Menurut Surplus Teori, semakin besar ketekunan, semakin besar dampak dari laporan laba rugi terhadap nilai perusahaan.

Contoh Pengukuran Yang Bertahan Lama
               i.     Akuntansi Utang dan Piutang
Piutang dan hutang dinyatakan sebesar jumlah yang diharapkan dari uang tunai yang akan diterima atau dibayar. Pada basis ini, penilaian mendekati present value. Piutang dan utang dinilai sebesar jumlah kas yang diharapkan dapat diterima atau dibayar. Karena dimensi waktunya pendek, maka faktor diskonto diabaikan. Pada dasarnya penilaian ini merupakan konsep nilai tunai.
             ii.     Cash Flow Fix by Contract
Arus kas tetap dengan kontrak yang bernilai nilai sekarang . Misalnya , kontrak sewa guna usaha harus dinilai sebesar nilai tunai dari pembayaran sewa minimum , menggunakan lebih rendah dari tingkat suku bunga implisit dalam sewa dan tingkat suku bunga pinjaman lessee . Namun, jika harga pasar berubah selama masa pakai dari sewa nilai sekarang dari sewa tidak disesuaikan . Oleh karena itu , ini akan membutuhkan aplikasi parsial dari perspektif pengukuran.
Kontrak capital lease dan utang jangka panjang biasanya menggunakan basis nilai tunai. Capital lease dinilai sebesar nilai tunai minimum pembayaran leasing, menggunakan tingkat bunga terrendah yang implisit dalam leasing atau tingkat bunga pinjaman lessee. Nilai utang jangka panjang juga sama dengan nilai tunai pembayaran bunga dan pokok masa depan yang didiskontokan sebesar tingkat bunga efektif pada saat utang dikeluarkan. Apabila tingkat bunga pasar berubah sepanjang kontrak, nilai tunai leasing dan kontrak utang tidak disesuaikan. Dengan demikian, masih terlihat bahwa leasing dan kontrak utang jangka panjang didasarkan pada historical cost. Aplikasi perspektif pengukuran secara parsial diterapkan untuk kasus ini.

           iii.     LCOM (Lower of Cost of Market) or Market Rule
LCOM (Lower of Cost Market) atau Market Rule, merupakan salah satu contoh dari perspektif pengukuran. Ketika aset (investasi jangka pendek, persediaan) nilai pasar jatuh di bawah nilai tercatat, write-down diperlukan untuk nilai pasar. Setelah nilai aset diturunkan itu tidak ditulis lagi. Misalnya, Surat berharga jangka pendek dan persediaan dinilai dengan LCOM. Prinsip konservatif mendasari konsep pengukuran ini. Aplikasi perspektif pengukuran diterapkan secara parsial untuk kasus ini.

            iv.     Push Down Accounting
Push Down Accounting, terjadi ketika sebuah perusahaan mengakuisisi perusahaan lain dengan transaksi bebas (arm’s-length transaction), maka perusahaan yang mengakuisisi tersebut dapat merevaluasi kembali aktiva dan utang perusahaan yang diakuisisi. Hal ini disebut sebagai push-down accounting. Sebagian aplikasi perspektif pengukuran sudah berlaku untuk kasus ini. Hasilnya adalah bahwa komponen neraca dicatat pada buku perusahaan yang diakuisisi sebesar nilai wajarnya sebagaimana ditetapkan dalam transaksi akuisisi tersebut.

              v.     Opensions and Other Post-Employment Benefits (OPEB)
Selain memberikan pensiun kepada karyawan mereka, banyak perusahaan juga menawarkan dua jenis manfaat tambahan . Imbalan pasca diberikan kepada mantan karyawan setelah kerja tapi sebelum pensiun . Di bawah FASB Statement No 112,19 sebuah perusahaan harus bertambah biaya manfaat selama bekerja dan mengakui jumlah sebagai beban dan kewajiban jika empat kriteria untuk pengakuan absen kompensasi didefinisikan dalam FASB Statement No 43 terpenuhi, jika salah satu dari kriteria tidak terpenuhi, perusahaan mencatat beban dan kewajiban ketika kewajiban tersebut kemungkinan dan jumlahnya dapat diestimasi secara wajar, sesuai dengan ketentuan FASB Statement No 5
Di Kanada, akuntansi dana pensiun menggunakan basis nilai tunai. Aktiva dana pensiun dinilai sebesar nilai wajar. Utang dana pensiun dinilai sebesar nilai tunai benefit yang akan diperoleh oleh karyawan. Biaya dana pensiun suatu periode merupakan bagian dari nilai tunai untuk periode tersebut. Pengembangan penggunaan basis nilai tunai di Kanada tidak hanya terhadap dana pensiun juga terhadap other post-employment benefits (OPEB), misalnya program kesehatan dan asuransi bagi karyawan. Di USA, hal yang sama dilakukan dengan SFAS 106 tentang OPEB.

            vi.     Ceiling Test for Capital Asset
Pada dasarnya, aktiva tetap dinilai sebesar biaya. Namun ada ceiling test apabila net carrying value (nilai buku bersih) lebih besar dari net recoverable amount. Net recoverable amount ditentukan dengan mengestimasi arus kas masa depan dan mencari nilai tunainya. Ceiling test sepadan dengan LCOM. Sebagian aplikasi perspektif pengukuran berlaku untuk hal ini. Tanggapannya adalah bahwa estimasi arus kas tidak didiskontokan. Dibandingkan dengan aturan yang LOCM or Market Rule modal dapat ditulis tapi tidak ditulis , untuk bersih nilai yang dapat diperoleh kembali.
Ceiling test menuntut adanya penghapusan apabila nilai buku bersih (net carrying value) aktiva tetap melebihi jumlah yang dapat diterima (net recoverable amount). Penentuan jumlah yang dapat diterima membutuhkan estimasi tentang arus kas masa depan dari penggunaan aktiva tetap tersebut. Akan tetapi, arus kas masa depan tersebut tidak didiskontokan (seperti dalam kondisi ideal) karena tujuan ceiling test bukan untuk penilaian (valuation), melainkan penentuan jumlah yang dapat diterima (recovery).
Konsep recovery dapat dibenarkan dalam konsep konservatisme, tetapi sulit dalam konsep decision usefulness. Hal ini terjadi karena dalam konsep decision usefulnes seharusnya nilai informasi sama apabila nilai pasar lebih tinggi dari kos dibandingkan dengan apabila nilai pasar lebih rendah dari kos. Di sisi lain, akuntan berpendapat bahwa risiko terhadap tuntutan hukum lebih besar apabila sejumlah tertentu aktiva tetap dinyatakan terlalu tinggi (overstated) dibandingkan dengan sejumlah yang sama aktiva tetap dinyatakan terlalu rendah (understated). Berdasarkan penjelasan tersebut, ceiling test terhadap aktiva tetap merupakan penerapan sebagian dari konsep measurement perspective sama seperti dalam LCOM terhadap surat berharga dan persediaan.

          vii.     Impaired Loans
Jumlah penurunan nilai pinjaman didefinisikan dalam istilah matematika. Pemberi pinjaman mengkalkulasikan amount dengan mengurangi jumlah yang diharapkan dapat dicover pada pinjaman dari jumlah buku awal pinjaman.
Ketentuan akuntansi tentang utang-piutang bermasalah (impaired loans) mengharuskan perusahaan untuk menghapus tidak hanya pokok melainkan juga bunga yang dianggap tidak dapat recovered.

Financial Instrument
            Instrumen keuangan adalah mereka yang menciptakan aset untuk satu pihak dan kewajiban atau ekuitas untuk pihak lain, dan Akuntansi untuk instrumen ini didominasikan pada pengukuran berbasis. Dalam SFAS 115 dinyatakan bahwa investasi yang niatnya dipegang sampai dengan jatuh tempo (hold-to-maturity) dapat menggunakan kos walaupun harga pasarnya lebih rendah dari kos tersebut. Akan tetapi, apabila sebagian dari investasi tersebut dijual sebelum jatuh tempo, maka sisanya harus diubah menjadi surat berharga yang segera dijual (available for sale) dan dinilai sebesar harga pasar.  Dampak dari aturan ini terhadap necara adalah terjadi reklasifikasi investasi jangka panjang menjadi surat berharga jangka pendek. Harga perolehan investasi akan diubah dari kos menjadi harga pasar. FASB melakukan hal ini untuk menghindari gains trading.
            Dengan meningkatnya tingkat bunga surat berharga obligasi, maka nilai obligasi tersebut menurun. Bank yang menjual sebagian investasi obligasinya akan mengalami pengurangan jumlah dalam ekuitas perusahaan karena penurunan nilai obligasi tersebut. Hal ini memang tidak berpengaruh terhadap earnings yang dilaporkan, namun jumlah ekuitas dalam neraca yang dilaporkan kepada pemegang saham menurun. SFAS 115 mengeluarkan laba atau rugi yang belum direalisasi untuk menghindari cerry picking yang dilakukan oleh perusahaan dengan mengakui laba atas penjualan sebagian obligasi yang niatnya dimiliki sampai jatuh tempo tanpa menilai seluruh portofolio obligasinya yang belum dijual.
Gunakan teori pasar modal efisien untuk mengevaluasi klaim dalam artikel tersebut bahwa, dengan kenaikan tingkat bunga dan nilai obligasi menurun, menghasilkan penurunan tajam dalam ekuitas akan menyebabkan investor “kecut” terhadap saham bank. Dalam jawaban Saudara pertimbangkan temuan Barth (1994) yang menyatakan bahwa nilai pasar saham bank dipengaruhi oleh informasi tentang nilai wajar investasi sekuritas bank tersebut.

Penilaian Sekuritas Utang dan Ekuitas
            Menurut, SFAS 115, Penilaian sekuritas utang dan ekuitas dapat terbagi menjadi beberapa macam, yaitu:
         Trading Securities (Sekuritas Diperdagangkan), Dibeli dan dimiliki utamanya untuk dijual segera untuk memperoleh income atas perubahan harga jangka pendek.
         Available-for-Sale Securities (Sekuritas Tersedia untuk Dijual), Sekuritas ini mungkin dijual di masa depan.
         Held-to-Maturity Securities (Sekuritas Dimiliki Hingga Jatuh Tempor), Sekuritas utang (obligasi) yang dimaksudkan dipegang hingga jatuh tempo.

Valuasi Efek Utang dan Ekuitas
Investasi pada efek hutang atau efek ekuitas harus diklasifikasikan sebagai dimiliki hingga jatuh tempo (Heald to Maturity), diperdagangkan (Trading Securities) atau tersedia untuk dijual (Avalable for Sale) yang dinilai pada biaya perolehan diamortisasi , dua terakhir yang dinyatakan sebesar nilai wajar. Masalah dengan akuntansi untuk efek ini adalah bahwa orang hanya akan menjual sekuritas jika ada keuntungan dalam nilai mereka.
Dan tidak akan menjual surat berharga yang telah kehilangan nilai (yaitu mereka mengklasifikasikan mereka sebagai "Heald to Maturity" sampai nilai mereka meningkat sehingga mereka dapat dipindahkan dari klasifikasi ini). Standar akuntansi berusaha untuk mencegah hal ini dengan menempatkan aturan ketat pada apa yang dapat dan tidak dapat diperdagangkan ke dalam dari efek "Heald to Maturity". Standar juga bertujuan untuk mencegah meningkatnya volatilitas dari tindakan laba bersih.
Gains trading (cherry-picking)
Gains trading adalah praktik yang digunakan oleh lembaga keuangan untuk mengatur earnings yang dilaporkan dengan cara tetap menggunakan metode cost (bukan market) terhadap investasi portofolio yang harga pasarnya naik dan segera dijual untuk merealisasikan laba; sedangkan portofolio investasi lain yang harga pasarnya tetap rendah dinilai tetap sebesar kos sehingga tidak diakui adanya kerugian (karena niatnya dianggap dimiliki dalam jangka panjang). Hal ini dapat terjadi karena investasi portofolio jangka panjang (sesuai dengan niat kepemilikannya) dapat dicatat sebesar kos sedangkan niat perusahaan dapat diubah sesuai dengan kepentingan pelaporan keuangan.
Instrument Derivatif
Nilai instrumen derivatif didasarkan pada beberapa mendasari : harga, tingkat suku bunga, nilai tukar, dll. Instrumen ini membutuhkan atau mengizinkan net settlement, dan biasanya ada sedikit atau tidak ada biaya untuk memperhitungkan. Pengungkapan tambahan diperlukan untuk instrumen ini karena ini, Akuntansi untuk dividen yang cenderung menuju perspektif pengukuran.
Hedge Accounting
Perusahaan menghindari situasi keuangan yang berisiko dengan menggunakan instrumen lindung nilai untuk bergerak dalam arah yang berlawanan dari risiko harga. Menemukan item yang dilindung nilai yang ideal sangat sulit karena ketidakpastian terkait dengan itu dan dunia keuangan. Risiko Dasar adalah risiko yang terjadi karena kita jarang memiliki lindung nilai sempurna efisien. Dalam akuntansi lindung nilai, keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi dapat ditangguhkan. Keuntungan dan kerugian ini akan ditampilkan pada laporan laba rugi setelah penangguhan tidak diperlukan.
Tahun 1960-an, hanya 3% future trading termasuk hedging. Tahun 1970-an, 65% future trading adalah hedging. Tahun 1980-an, terjadi gejolak harga komoditas, suku bunga, dan kurs valuta asing. FASB mengidentifikasi ada 75 jenis instrumen hedging. Sampai dengan 1998, belum ada pedoman akuntansi hedging. Sebelum SFAS 133, hedging hanya sebagai manajemen risiko, off balance sheet, atau SFAS 115. Praktik beragam, informasi derivatif berdasarkan HC kurang relevan, ada kemungkinan gains trading/cherry picking.
Ada derivatif untuk hedging, ada derivatif bukan untuk hedging. Derivatif untuk hedging :
1)      Cash flow hedge
2)      Fair value hedge
3)      Foreign currency hedge
Fair value adalah satu-satunya pengukuran yang relevan untuk derivatif. Investor berada pada posisi yang lebih baik untuk mengevaluasi keberhasilan manajemen risiko perusahaan.
Risiko Beta
Ada hubungan langsung antara beta dan risiko berbasis keuangan-pernyataan (yaitu dividend payout, leverage, dan pendapatan variabilitas). Misalnya: semakin tinggi pembayaran dividen, semakin rendah beta.
Pasar Saham Reaksi terhadap Risiko Lainnya
Investor dan pembuat standar berdua ingin dan membutuhkan peningkatan informasi terkait resiko dalam laporan tahunan. Sebagai contoh, investor sering dipengaruhi oleh pengungkapan nilai wajar pada nilai pasar ekuitas. Selain itu, pasar merespon perusahaan natural hedging on -balance sheet serta turunannya off-balance -sheet nya lindung nilai.
Pengukuran Perspektif pada Pelaporan Risiko
Kuantitatif pengungkapan risiko harga mengambil bentuk sebagai berikut adalah pengungkapan nilai wajar dan syarat-syarat kontrak, pengungkapan analisis sensitivitas pada perubahan potensial yang dapat mempengaruhi posisi keuangan, dan pengungkapan nilai yang akan beresiko jika rendah tertentu - probabilitas peristiwa terjadi.
Pelaporan Risiko
Dalam SFAC 1, badan akuntansi profesional mengakui bahwa investor membutuhkan informasi risiko. Teori mengusulkan bahwa beta saham merupakan satu-satunya ukuran risiko spesifik terhadap perusahaan bagi diversifikasi portofolio investor rasional. Beta biasanya diperkirakan dengan menggunakan analisis regresi. Dari pernyataan di atas terlihat bahwa pelaporan keuangan memiliki peran yang kecil terhadap pelaporan risiko perusahaan. Tetapi perlu diketahui bahwa beta dan ukuran risiko berbasis akuntansi saling berkorelasi. Ukuran risiko berbasis laporan keuangan dapat mengindikasikan arah dan besarnya perubahan dalam beta.
BKS, Beaver, Kettler, dan Scholes (1970), pertama kali menguji hubungan antara beta dengan ukuran risiko berbasis pelaporan keuangan. BKS menggunakan sampel 307 perusahaan yang terdaftar di NYSE untuk periode 1947 – 1956 dan 1957 – 1965. BKS mengukur berbagai ukuran risiko berbasis laporan keuangan (misalnya dividend payout, leverage, dan earnings variability). BKS menemukan bahwa variabel akuntansi merupakan penaksir yang lebih baik terhadap beta masa depan dibandingkan dengan beta sekarang.
Hamada (1972) menunjukkan bahwa, dalam kondisi ideal, ada hubungan langsung antara rasio debt to equity terhadap beta. Lev (1974) menemukan bahwa, dalam kondisi ideal, ada hubungan langsung operating leverage (rasio biaya operasi tetap terhadap biaya variabel) terhadap beta. Dalam kondisi tidak ideal, setidaknya sebagian dari hubungan langsung tersebut dapat terjadi.
Beta pasar diukur dengan formula CAPM. Sedangkan accounting based beta dapat dilihat dari:
1)  Financial leverage (perbandingan utang dengan modal). Semakin besar utang, semakin besar risiko perusahaan.
2)  Operating leverage (perbandingan fixed cost dengan variable cost). Semakin besar fixed cost perusahaan, maka semakin besar risiko perusahaan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, badan penyusun standar menuntut perusahaan untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan risiko dalam laporan keuangan tahunan. FASB 107 tentang Disclosures about Fair Value of Financial Instruments dan FAS 133 tentang Accounting for Derivatives and Hedging Activities menuntut untuk mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan risiko, misalnya informasi suplemen tentang eksposur terhadap risiko kredit dan pasar serta risiko kebijakan manajemen. Tidak hanya yang bersifat kualitatif yang perlu dilaporkan, tetapi juga terkait dengan perspektif pengukuran yang bersifat kuantitatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar