Sudah tidak asing lagi
pokok pembahasan yang berkenaan dengan judul ini.
apalagi kalau bukan membahas tentang PILPRES..
apalagi kalau bukan membahas tentang PILPRES..
right???? yaapp sure!
Mungkin di web manapun
sudah seringkali dibahas, di social media manapun juga sudah sering kali di ulas dan
diperdebatkan, bahkan sampai ada yang saling menjatuhkan satu sama lain,,
saling menjatuhkan antara 1 kubu dengan kubu lainnya.
Pada blog ini, kami
memaparkan sedikit antara pro dan kontra terhadap dampak perekonomian selama
pemilihan presiden, hasil dari sebuah ide yang terlintas dalam benak pemikiran
seseorang. apakah dalam orde pilpres ini, apakah ada peningkatan ekonomi Negara ??
lantas, bagaimanakah kondisi inflasi nya??
akankah ada hasil yang signifikan antar keduanya??

lantas, bagaimanakah kondisi inflasi nya??
akankah ada hasil yang signifikan antar keduanya??
| Grafik perbandingan return |
Pada pendapat pro,
dibalik event pemilihan presiden tidak
menyangka bahwa dapat menaikkan kurs mata uang rupiah, Menurutnya, penguatan rupiah yang terjadi hari ini lebih karena dipicu
pemilihan presiden yang berlangsung aman dan lancar.
Sementara dari faktor ekonomi, kondisi defisit transaksi berjalan masih
cenderung mengkhawatirkan. Pasalnya, pemerintah belum menunjukkan langkah yang
signifikan untuk mengatasi sisutasi tersebut[1]
siapa sangka??
dalam keporak porandaan pemilihan presiden ini malah menaikkan nilai kurs
rupiah Indonesia. padahal selama peilpres ini jutru banyak menggunakan budget
dan biaya yang tinggi dan tak terduga. Rupiah terus menunjukkan tren penguatan
pekan ini dengan bergerak ke level 11.500-an per dolar AS. Pemilihan umum
presiden yang berlangsung aman dan lancar pada Rabu (9/7/2014) membuat rupiah
semakin bergairah.[2]
Akan tetapi komentar dari Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan perekonomian
belum merasakan dampak sikap dua kubu pasangan calon presiden yang saling klaim
kemenangan pada pemilu presiden kemarin. "Kan semua aman terkendali.
Buktinya, rupiah menguat, indeks harga saham gabungan juga hijau," ujarnya
saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis, 10 Juli 2014. [3]
namun
pada intinya, apakah kenaikan kurs saham tersebut hanyalah sebagai alat
pencintraan dari masing-masing capres, sehingga dapat menarik rakyat untuk memilih
dari salah satu capres tersebut. Menurutnya, para pelaku pasar
kini tengah menanti konfirmasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengenai siapa
pemenang yang akan menjadi pemimpin baru negeri ini. Berita-berita dari sejumlah
faktor domestik juga memberikan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan faktor
regional.
"Kalau
selisih perolehan suara yang berasal dari hasil hitung cepat berada di level 1
persen-3 persen, kemungkinan masih bisa berubah di KPU. Karena bisa
dianggap margin of error," ujarnya.
Sebaliknya,
berdasarkan beberapa kali pemilihan presiden sebelumnya, hasil hitung cepat
cenderung sama dengan hasil yang diumumkan KPU jika selisihnya berada di atas 3
persen.
Sementara
dari faktor ekonomi, kondisi defisit transaksi berjalan masih cenderung
mengkhawatirkan. Pasalnya, pemerintah belum menunjukkan langkah yang signifikan
untuk mengatasi situtasi tersebut.
Pesta lima tahunan kali ini diberitakan akan menurunkan ekonomi
Indonesia. Dilansir Detik.com, pemilu tahun ini dianggap tidak meriah sehingga
BI memprediksi pertumbuhan ekonomi tidak sampai 6%. Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi
Indonesia tidak akan mencapai target tahun ini, dari target awal APBN 2014
sebesar 6%. BI memproyeksikan ekonomi tumbuh hanya 5,5%-5,9%. "BI memperkirakan
pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 berada pada kisaran 5,%-5,9%," ungkap
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara membacakan hasil Rapat
Dewan Gubernur (RDG) di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis
(13/3/2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar