By :
Tanzila Azizatur
Rahmah
S. 1115.158
Overview
Bab
ini merupakan kelanjutan dari bab-bab sebelumnya. Namun, pada bab ini focus terhadap
pokok pembahasan yang berkenaan dengan peran perspektif pengukuran untuk
meningkatkan decision usefulness atau bisa disebut dengan kebermanfaatan dalam
pengambilan sebuah keputusan yang bertentangan dengan perspektif informasi.
Dalam
sebuah buku, perspektif pengukuran pelaporan keuangan itu didefinisikan sebagai
suatu pendekatan di mana akuntan
melakukan tanggung jawab untuk memasukkan nilai wajar dalam laporan keuangan
yang tepat , menyediakan bahwa hal ini dapat dilakukan dengan keandalan yang
wajar , dengan demikian mengakui kewajiban meningkat untuk membantu investor
untuk memprediksi kinerja perusahaan di masa depan .
Di
masa lalu, telah ada sejumlah besar laporan keuangan berdasarkan pengukuran
biaya historis tapi tren sekarang adalah untuk melaporkan kinerja keuangan
berdasarkan nilai wajar sehingga memungkinkan investor untuk menilai alternatif
investasi .
Alasan Meningkatkan
Perhatian Terhadap Pengukuran
Dalam beberapa tahun terakhir,
banyak sekali keraguan besar mengenai relevansi akuntansi berbasis historis
value. Misalnya, net income menjelaskan sebagian kecil dari variasi harga
keamanan. Maka, ada kebutuhan untuk perspektif yang membantu investor menilai
probabilitas laba masa depan dan kembali lebih efektif dibandingankan akuntansi
biaya historis. Dan juga adanya peningkatan tekanan dalam mendukung perspejtif
pengukuran dari lembaga keuangan yang telah terlibat dalam tuntutan hukum
karena konflik atas valuasi.
Penjelasan Kekuatan
Laba Bersih
Seperti
apa yang telah kita bahas pada chapter sebelumnya, sebagian besar kembalinya keamanan
variabilitas, salah satunya dikarenakan oleh faktor lain selain perubahan laba.
Ini sangat unrealistic, bagaimanapun untuk mengekspetasikan net income untuk
memaparkan seluruh abnormal return sekuritas. Meskipun perpektif informasi
mengakui bahwa ada banyak sumber informasi lain dari para competitor diluar
sana dan informasi akuntansi tidak dapat menjelaskansemua seluruh abnormal
return valiability. Dan telah didiskusikan bahwa kurangnya ketepatan waktu pada
pendapatan yang berbasis historical cost adalah suatu alasan untuk kualitas yang
rendah pada laba tersebut. Kualitas tersebut dapat ditingkatkan dengan
incorporating the measurement perspective ke dalam laporan keuangan. maka dari
itu, laporan keuangan yang berbasis historical cost jika terlambnat mengakui
laba, maka laporan keuangan berbasis HC juga tidak mampu mengantisipasi
kebangkrutan atas suatu perusahaan. Inilah salah satu sebab musababnya adanya
tuntutan hukum masyarakat terhadap akuntan meningkat. Dan FSAB itu sendiri
telah melakukan banyak usaha yang berorientasi perspektif pengukuran dengan
nilai wajar.
Sumber
utama dalam mendukung perspektif pengukuran berasal dari lembaga keuangan. Auditor
menghadapi peningkatan tanggung jawab hukum dan mengalami kesulitan membela
diri dari tuntutan hukum sehubungan dengan kegagalan bisnis. Misalnya, jika
rekaman nilai aktiva berlebihan ini dapat mengakibatkan litigasi terhadap
akuntan karena informasi akuntansi adalah menyesatkan kepada investor, sehingga
dapat mengakibatkan tuntutan hukum masyarakat terhadap akuntan meningkat.
Ohloson Clean Theory
Surplus
The
Ohlson Surplus Clean Teori ( berdasarkan versi F & O ) menunjukkan
bagaimana nilai pasar perusahaan dapat dinyatakan dalam hal neraca dan komponen
sheet pendapatan . Nilai pasar dari suatu perusahaan dapat dinyatakan dengan
rumus :
Pat = BVT + gt
Dimana “BVT”
adalah nilai buku bersih aset perusahaan per-neraca dan “gt” adalah
nilai sekarang yang diharapkan dari pendapatan normal di masa depan, juga dapat
disebut goodwill (perbedaan antara laba aktual dan diharapkan). Kami
membutuhkan keduanya dari angka-angka ini untuk memperkirakan nilai saham.
Clean Theory Surplus, mengarah
ke perspektif pengukuran karena nilai-nilai yang lebih adil akuntan
menggabungkan ke dalam BVT kurang kebutuhan untuk memprediksi laba abnormal.
Ketika goodwill perusahaan sama dengan nol, ini berarti bahwa laba abnormal
tidak bertahan dan bahwa semua nilai perusahaan muncul pada neraca. The F &
O model juga memperkenalkan konsep persistensi laba. Hal ini berkaitan dengan
masih adanya realisasi negara di luar tahun berjalan. Misalnya, jika realisasi
keadaan buruk terjadi pada tahun tertentu efek ekonomi yang cenderung bertahan
ke masa depan. Menurut Surplus Teori, semakin besar ketekunan, semakin besar
dampak dari laporan laba rugi terhadap nilai perusahaan.
Contoh Pengukuran Yang
Bertahan Lama
i. Akuntansi Utang dan Piutang
Piutang dan hutang dinyatakan sebesar jumlah yang diharapkan dari uang
tunai yang akan diterima atau dibayar. Pada basis ini, penilaian mendekati
present value. Piutang dan utang dinilai sebesar jumlah kas yang
diharapkan dapat diterima atau dibayar. Karena dimensi waktunya pendek, maka
faktor diskonto diabaikan. Pada dasarnya penilaian ini merupakan konsep nilai
tunai.
Arus kas tetap dengan kontrak yang bernilai nilai sekarang . Misalnya , kontrak
sewa guna usaha harus dinilai sebesar nilai tunai dari pembayaran sewa minimum
, menggunakan lebih rendah dari tingkat suku bunga implisit dalam sewa dan
tingkat suku bunga pinjaman lessee . Namun, jika harga pasar berubah selama
masa pakai dari sewa nilai sekarang dari sewa tidak disesuaikan . Oleh karena
itu , ini akan membutuhkan aplikasi parsial dari perspektif pengukuran.
Kontrak capital lease dan utang jangka panjang biasanya menggunakan
basis nilai tunai. Capital lease dinilai sebesar nilai tunai minimum pembayaran
leasing, menggunakan tingkat bunga terrendah yang implisit dalam leasing atau
tingkat bunga pinjaman lessee. Nilai utang jangka panjang juga sama dengan
nilai tunai pembayaran bunga dan pokok masa depan yang didiskontokan sebesar tingkat
bunga efektif pada saat utang dikeluarkan. Apabila tingkat bunga pasar berubah
sepanjang kontrak, nilai tunai leasing dan kontrak utang tidak disesuaikan.
Dengan demikian, masih terlihat bahwa leasing dan kontrak utang jangka panjang
didasarkan pada historical cost. Aplikasi perspektif pengukuran secara parsial
diterapkan untuk kasus ini.
iii. LCOM (Lower of Cost of Market) or
Market Rule
LCOM (Lower of Cost Market) atau Market Rule, merupakan salah satu contoh
dari perspektif pengukuran. Ketika aset (investasi jangka pendek, persediaan)
nilai pasar jatuh di bawah nilai tercatat, write-down diperlukan untuk nilai
pasar. Setelah nilai aset diturunkan itu tidak ditulis lagi. Misalnya, Surat
berharga jangka pendek dan persediaan dinilai dengan LCOM. Prinsip konservatif
mendasari konsep pengukuran ini. Aplikasi perspektif pengukuran diterapkan
secara parsial untuk kasus ini.
iv. Push Down Accounting
Push Down Accounting, terjadi ketika sebuah perusahaan mengakuisisi
perusahaan lain dengan transaksi bebas (arm’s-length transaction), maka
perusahaan yang mengakuisisi tersebut dapat merevaluasi kembali aktiva dan
utang perusahaan yang diakuisisi. Hal ini disebut sebagai push-down accounting.
Sebagian aplikasi perspektif pengukuran sudah berlaku untuk kasus ini. Hasilnya
adalah bahwa komponen neraca dicatat pada buku perusahaan yang diakuisisi
sebesar nilai wajarnya sebagaimana ditetapkan dalam transaksi akuisisi
tersebut.
v. Opensions and Other Post-Employment
Benefits (OPEB)
Selain memberikan pensiun kepada karyawan mereka, banyak
perusahaan juga menawarkan dua jenis manfaat tambahan . Imbalan pasca diberikan
kepada mantan karyawan setelah kerja tapi sebelum pensiun . Di bawah FASB
Statement No 112,19 sebuah perusahaan harus bertambah biaya manfaat selama
bekerja dan mengakui jumlah sebagai beban dan kewajiban jika empat kriteria
untuk pengakuan absen kompensasi didefinisikan dalam FASB Statement No 43
terpenuhi, jika salah satu dari kriteria tidak terpenuhi, perusahaan mencatat
beban dan kewajiban ketika kewajiban tersebut kemungkinan dan jumlahnya dapat
diestimasi secara wajar, sesuai dengan ketentuan FASB Statement No 5
Di Kanada, akuntansi dana pensiun menggunakan basis nilai
tunai. Aktiva dana pensiun dinilai sebesar nilai wajar. Utang dana pensiun
dinilai sebesar nilai tunai benefit yang akan diperoleh oleh karyawan. Biaya
dana pensiun suatu periode merupakan bagian dari nilai tunai untuk periode
tersebut. Pengembangan penggunaan basis nilai tunai di Kanada tidak hanya
terhadap dana pensiun juga terhadap other post-employment benefits (OPEB),
misalnya program kesehatan dan asuransi bagi karyawan. Di USA, hal yang sama
dilakukan dengan SFAS 106 tentang OPEB.
vi. Ceiling Test for Capital Asset
Pada dasarnya, aktiva tetap dinilai sebesar biaya. Namun ada ceiling
test apabila net carrying value (nilai buku bersih) lebih besar dari net
recoverable amount. Net recoverable amount ditentukan dengan mengestimasi arus
kas masa depan dan mencari nilai tunainya. Ceiling test sepadan dengan LCOM.
Sebagian aplikasi perspektif pengukuran berlaku untuk hal ini. Tanggapannya adalah
bahwa estimasi arus kas tidak didiskontokan. Dibandingkan dengan aturan yang LOCM
or Market Rule modal dapat ditulis tapi tidak ditulis , untuk bersih nilai yang
dapat diperoleh kembali.
Ceiling test menuntut adanya penghapusan apabila nilai buku bersih (net
carrying value) aktiva tetap melebihi jumlah yang dapat diterima (net
recoverable amount). Penentuan jumlah yang dapat diterima membutuhkan estimasi
tentang arus kas masa depan dari penggunaan aktiva tetap tersebut. Akan tetapi,
arus kas masa depan tersebut tidak didiskontokan (seperti dalam kondisi ideal)
karena tujuan ceiling test bukan untuk penilaian (valuation), melainkan
penentuan jumlah yang dapat diterima (recovery).
Konsep recovery dapat dibenarkan dalam konsep konservatisme, tetapi
sulit dalam konsep decision usefulness. Hal ini terjadi karena dalam konsep
decision usefulnes seharusnya nilai informasi sama apabila nilai pasar lebih
tinggi dari kos dibandingkan dengan apabila nilai pasar lebih rendah dari kos.
Di sisi lain, akuntan berpendapat bahwa risiko terhadap tuntutan hukum lebih
besar apabila sejumlah tertentu aktiva tetap dinyatakan terlalu tinggi
(overstated) dibandingkan dengan sejumlah yang sama aktiva tetap dinyatakan
terlalu rendah (understated). Berdasarkan penjelasan tersebut, ceiling test
terhadap aktiva tetap merupakan penerapan sebagian dari konsep measurement
perspective sama seperti dalam LCOM terhadap surat berharga dan persediaan.
vii. Impaired Loans
Jumlah penurunan nilai pinjaman didefinisikan dalam
istilah matematika. Pemberi pinjaman mengkalkulasikan amount dengan mengurangi
jumlah yang diharapkan dapat dicover pada pinjaman dari jumlah buku awal
pinjaman.
Ketentuan akuntansi tentang utang-piutang bermasalah
(impaired loans) mengharuskan perusahaan untuk menghapus tidak hanya pokok
melainkan juga bunga yang dianggap tidak dapat recovered.
Financial Instrument
Instrumen keuangan
adalah mereka yang menciptakan aset untuk satu pihak dan kewajiban atau ekuitas
untuk pihak lain, dan Akuntansi untuk instrumen ini didominasikan pada pengukuran
berbasis. Dalam SFAS 115 dinyatakan bahwa investasi yang niatnya dipegang
sampai dengan jatuh tempo (hold-to-maturity) dapat menggunakan kos walaupun
harga pasarnya lebih rendah dari kos tersebut. Akan tetapi, apabila sebagian
dari investasi tersebut dijual sebelum jatuh tempo, maka sisanya harus diubah
menjadi surat berharga yang segera dijual (available for sale) dan dinilai
sebesar harga pasar. Dampak dari aturan
ini terhadap necara adalah terjadi reklasifikasi investasi jangka panjang
menjadi surat berharga jangka pendek. Harga perolehan investasi akan diubah
dari kos menjadi harga pasar. FASB melakukan hal ini untuk menghindari gains
trading.
Dengan meningkatnya
tingkat bunga surat berharga obligasi, maka nilai obligasi tersebut menurun.
Bank yang menjual sebagian investasi obligasinya akan mengalami pengurangan
jumlah dalam ekuitas perusahaan karena penurunan nilai obligasi tersebut. Hal
ini memang tidak berpengaruh terhadap earnings yang dilaporkan, namun jumlah
ekuitas dalam neraca yang dilaporkan kepada pemegang saham menurun. SFAS 115
mengeluarkan laba atau rugi yang belum direalisasi untuk menghindari cerry
picking yang dilakukan oleh perusahaan dengan mengakui laba atas penjualan
sebagian obligasi yang niatnya dimiliki sampai jatuh tempo tanpa menilai
seluruh portofolio obligasinya yang belum dijual.
Gunakan teori pasar modal efisien untuk
mengevaluasi klaim dalam artikel tersebut bahwa, dengan kenaikan tingkat bunga
dan nilai obligasi menurun, menghasilkan penurunan tajam dalam ekuitas akan
menyebabkan investor “kecut” terhadap saham bank. Dalam jawaban Saudara
pertimbangkan temuan Barth (1994) yang menyatakan bahwa nilai pasar saham bank
dipengaruhi oleh informasi tentang nilai wajar investasi sekuritas bank
tersebut.
Penilaian
Sekuritas Utang dan Ekuitas
Menurut, SFAS 115,
Penilaian sekuritas utang dan ekuitas dapat terbagi menjadi beberapa macam,
yaitu:
•
Trading Securities (Sekuritas Diperdagangkan), Dibeli dan dimiliki utamanya untuk dijual
segera untuk memperoleh income atas perubahan harga jangka pendek.
•
Available-for-Sale Securities (Sekuritas Tersedia untuk
Dijual), Sekuritas ini
mungkin dijual di masa depan.
•
Held-to-Maturity Securities (Sekuritas Dimiliki Hingga
Jatuh Tempor), Sekuritas
utang (obligasi) yang dimaksudkan dipegang hingga jatuh tempo.
Valuasi
Efek Utang dan Ekuitas
Investasi pada efek hutang atau efek ekuitas harus
diklasifikasikan sebagai dimiliki hingga jatuh tempo (Heald to Maturity), diperdagangkan
(Trading Securities) atau tersedia untuk dijual (Avalable for Sale) yang
dinilai pada biaya perolehan diamortisasi , dua terakhir yang dinyatakan
sebesar nilai wajar. Masalah dengan akuntansi untuk efek ini adalah bahwa orang
hanya akan menjual sekuritas jika ada keuntungan dalam nilai mereka.
Dan tidak akan menjual surat berharga yang
telah kehilangan nilai (yaitu mereka mengklasifikasikan mereka sebagai "Heald
to Maturity" sampai nilai mereka meningkat sehingga mereka dapat dipindahkan
dari klasifikasi ini). Standar akuntansi berusaha untuk mencegah hal ini dengan
menempatkan aturan ketat pada apa yang dapat dan tidak dapat diperdagangkan ke
dalam dari efek "Heald to Maturity". Standar juga bertujuan untuk
mencegah meningkatnya volatilitas dari tindakan laba bersih.
Gains trading (cherry-picking)
Gains trading adalah praktik yang digunakan
oleh lembaga keuangan untuk mengatur earnings yang dilaporkan dengan cara tetap
menggunakan metode cost (bukan market) terhadap investasi portofolio yang harga
pasarnya naik dan segera dijual untuk merealisasikan laba; sedangkan portofolio
investasi lain yang harga pasarnya tetap rendah dinilai tetap sebesar kos
sehingga tidak diakui adanya kerugian (karena niatnya dianggap dimiliki dalam
jangka panjang). Hal ini dapat terjadi karena investasi portofolio jangka
panjang (sesuai dengan niat kepemilikannya) dapat dicatat sebesar kos sedangkan
niat perusahaan dapat diubah sesuai dengan kepentingan pelaporan keuangan.
Instrument Derivatif
Nilai instrumen derivatif didasarkan pada
beberapa mendasari : harga, tingkat suku bunga, nilai tukar, dll. Instrumen ini
membutuhkan atau mengizinkan net settlement, dan biasanya ada sedikit atau
tidak ada biaya untuk memperhitungkan. Pengungkapan tambahan diperlukan untuk
instrumen ini karena ini, Akuntansi untuk dividen yang cenderung menuju
perspektif pengukuran.
Hedge Accounting
Perusahaan menghindari situasi keuangan yang
berisiko dengan menggunakan instrumen lindung nilai untuk bergerak dalam arah
yang berlawanan dari risiko harga. Menemukan item yang dilindung nilai yang
ideal sangat sulit karena ketidakpastian terkait dengan itu dan dunia keuangan.
Risiko Dasar adalah risiko yang terjadi karena kita jarang memiliki lindung
nilai sempurna efisien. Dalam akuntansi lindung nilai, keuntungan dan kerugian
yang belum direalisasi dapat ditangguhkan. Keuntungan dan kerugian ini akan
ditampilkan pada laporan laba rugi setelah penangguhan tidak diperlukan.
Tahun 1960-an, hanya 3% future trading
termasuk hedging. Tahun 1970-an, 65% future trading adalah hedging. Tahun
1980-an, terjadi gejolak harga komoditas, suku bunga, dan kurs valuta asing.
FASB mengidentifikasi ada 75 jenis instrumen hedging. Sampai dengan 1998, belum
ada pedoman akuntansi hedging. Sebelum SFAS 133, hedging hanya sebagai
manajemen risiko, off balance sheet, atau SFAS 115. Praktik beragam, informasi
derivatif berdasarkan HC kurang relevan, ada kemungkinan gains trading/cherry
picking.
Ada derivatif untuk hedging, ada derivatif bukan untuk hedging. Derivatif
untuk hedging :
1) Cash flow hedge
2) Fair value hedge
3) Foreign currency hedge
Fair value adalah satu-satunya pengukuran
yang relevan untuk derivatif. Investor berada pada posisi yang lebih baik untuk
mengevaluasi keberhasilan manajemen risiko perusahaan.
Risiko Beta
Ada hubungan langsung antara beta dan risiko
berbasis keuangan-pernyataan (yaitu dividend payout, leverage, dan pendapatan
variabilitas). Misalnya: semakin tinggi pembayaran dividen, semakin rendah
beta.
Pasar Saham Reaksi terhadap Risiko Lainnya
Investor dan pembuat standar berdua ingin dan
membutuhkan peningkatan informasi terkait resiko dalam laporan tahunan. Sebagai
contoh, investor sering dipengaruhi oleh pengungkapan nilai wajar pada nilai
pasar ekuitas. Selain itu, pasar merespon perusahaan natural hedging on
-balance sheet serta turunannya off-balance -sheet nya lindung nilai.
Pengukuran Perspektif pada Pelaporan Risiko
Kuantitatif pengungkapan risiko harga
mengambil bentuk sebagai berikut adalah pengungkapan nilai wajar dan
syarat-syarat kontrak, pengungkapan analisis sensitivitas pada perubahan
potensial yang dapat mempengaruhi posisi keuangan, dan pengungkapan nilai yang
akan beresiko jika rendah tertentu - probabilitas peristiwa terjadi.
Pelaporan Risiko
Dalam SFAC 1, badan akuntansi profesional
mengakui bahwa investor membutuhkan informasi risiko. Teori mengusulkan bahwa
beta saham merupakan satu-satunya ukuran risiko spesifik terhadap perusahaan
bagi diversifikasi portofolio investor rasional. Beta biasanya diperkirakan
dengan menggunakan analisis regresi. Dari pernyataan di atas terlihat bahwa
pelaporan keuangan memiliki peran yang kecil terhadap pelaporan risiko
perusahaan. Tetapi perlu diketahui bahwa beta dan ukuran risiko berbasis
akuntansi saling berkorelasi. Ukuran risiko berbasis laporan keuangan dapat
mengindikasikan arah dan besarnya perubahan dalam beta.
BKS, Beaver, Kettler, dan Scholes (1970),
pertama kali menguji hubungan antara beta dengan ukuran risiko berbasis
pelaporan keuangan. BKS menggunakan sampel 307 perusahaan yang terdaftar di
NYSE untuk periode 1947 – 1956 dan 1957 – 1965. BKS mengukur berbagai ukuran
risiko berbasis laporan keuangan (misalnya dividend payout, leverage, dan
earnings variability). BKS menemukan bahwa variabel akuntansi merupakan
penaksir yang lebih baik terhadap beta masa depan dibandingkan dengan beta
sekarang.
Hamada (1972) menunjukkan bahwa, dalam
kondisi ideal, ada hubungan langsung antara rasio debt to equity terhadap beta.
Lev (1974) menemukan bahwa, dalam kondisi ideal, ada hubungan langsung
operating leverage (rasio biaya operasi tetap terhadap biaya variabel) terhadap
beta. Dalam kondisi tidak ideal, setidaknya sebagian dari hubungan langsung
tersebut dapat terjadi.
Beta pasar diukur dengan formula CAPM. Sedangkan accounting based beta
dapat dilihat dari:
1) Financial
leverage (perbandingan utang dengan modal). Semakin besar utang, semakin
besar risiko perusahaan.
2) Operating
leverage (perbandingan fixed cost dengan variable cost). Semakin besar
fixed cost perusahaan, maka semakin besar risiko perusahaan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, badan
penyusun standar menuntut perusahaan untuk memberikan informasi yang berkaitan
dengan risiko dalam laporan keuangan tahunan. FASB 107 tentang Disclosures
about Fair Value of Financial Instruments dan FAS 133 tentang Accounting for
Derivatives and Hedging Activities menuntut untuk mengungkapkan informasi yang
berkaitan dengan risiko, misalnya informasi suplemen tentang eksposur terhadap
risiko kredit dan pasar serta risiko kebijakan manajemen. Tidak hanya yang
bersifat kualitatif yang perlu dilaporkan, tetapi juga terkait dengan
perspektif pengukuran yang bersifat kuantitatif.