Minggu, 13 Juli 2014

DAMPAK EKONOMI NEGARA TERHADAP KOMPARASI PEMILIHAN PRESIDEN


Sudah tidak asing lagi pokok pembahasan yang berkenaan dengan judul ini.
apalagi kalau bukan membahas tentang PILPRES..
right???? yaapp sure!
Mungkin di web manapun sudah seringkali dibahas, di social media manapun juga sudah sering kali di ulas dan diperdebatkan, bahkan sampai ada yang saling menjatuhkan satu sama lain,,
saling menjatuhkan antara 1 kubu dengan kubu lainnya.
Pada blog ini, kami memaparkan sedikit antara pro dan kontra terhadap dampak perekonomian selama pemilihan presiden, hasil dari sebuah ide yang terlintas dalam benak pemikiran seseorang. apakah dalam orde pilpres ini, apakah ada peningkatan ekonomi Negara ??
lantas, bagaimanakah kondisi inflasi nya??
akankah ada hasil yang signifikan antar keduanya??

Grafik perbandingan return
Pada pendapat pro, dibalik event pemilihan presiden  tidak menyangka bahwa dapat menaikkan kurs mata uang rupiah, Menurutnya, penguatan rupiah yang terjadi hari ini lebih karena dipicu pemilihan presiden yang berlangsung aman dan lancar. Sementara dari faktor ekonomi, kondisi defisit transaksi berjalan masih cenderung mengkhawatirkan. Pasalnya, pemerintah belum menunjukkan langkah yang signifikan untuk mengatasi sisutasi tersebut[1]
siapa sangka?? dalam keporak porandaan pemilihan presiden ini malah menaikkan nilai kurs rupiah Indonesia. padahal selama peilpres ini jutru banyak menggunakan budget dan biaya yang tinggi dan tak terduga. Rupiah terus menunjukkan tren penguatan pekan ini dengan bergerak ke level 11.500-an per dolar AS. Pemilihan umum presiden yang berlangsung aman dan lancar pada Rabu (9/7/2014) membuat rupiah semakin bergairah.[2]
Akan tetapi komentar dari Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan perekonomian belum merasakan dampak sikap dua kubu pasangan calon presiden yang saling klaim kemenangan pada pemilu presiden kemarin. "Kan semua aman terkendali. Buktinya, rupiah menguat, indeks harga saham gabungan juga hijau," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis, 10 Juli 2014. [3]
namun pada intinya, apakah kenaikan kurs saham tersebut hanyalah sebagai alat pencintraan dari masing-masing capres, sehingga dapat menarik rakyat untuk memilih dari salah satu capres tersebut. Menurutnya, para pelaku pasar kini tengah menanti konfirmasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengenai siapa pemenang yang akan menjadi pemimpin baru negeri ini. Berita-berita dari sejumlah faktor domestik juga memberikan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan faktor regional.
"Kalau selisih perolehan suara yang berasal dari hasil hitung cepat berada di level 1 persen-3 persen, kemungkinan masih bisa berubah di KPU. Karena bisa dianggap margin of error," ujarnya.
Sebaliknya, berdasarkan beberapa kali pemilihan presiden sebelumnya, hasil hitung cepat cenderung sama dengan hasil yang diumumkan KPU jika selisihnya berada di atas 3 persen.
Sementara dari faktor ekonomi, kondisi defisit transaksi berjalan masih cenderung mengkhawatirkan. Pasalnya, pemerintah belum menunjukkan langkah yang signifikan untuk mengatasi situtasi tersebut.
 
Pesta lima tahunan kali ini diberitakan akan menurunkan ekonomi Indonesia. Dilansir Detik.com, pemilu tahun ini dianggap tidak meriah sehingga BI memprediksi pertumbuhan ekonomi tidak sampai 6%. Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan mencapai target tahun ini, dari target awal APBN 2014 sebesar 6%. BI memproyeksikan ekonomi tumbuh hanya 5,5%-5,9%. "BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 berada pada kisaran 5,%-5,9%," ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara membacakan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (13/3/2014).